Thursday, August 3, 2017

Pasal 18 Ceramah Rumi dalam Fihi Ma Fihi Bag. 2

Pasal 18 Ceramah Rumi dalam Fihi Ma Fihi Bag. 2

Nabi Isa sering tertawa, sementara nabi Yahya sering menangis. Nabi Yahya lantas berkata kepada Nabis Isa, "Kau sering tertawa seperti itu karena kau merasa aman dari tipuan yang sangat halus?". Isa menjawab, "Kau sering menangis seperti itu karena kau lupa sama sekali akan pertolongan dan kebaikan Allah yang begitu halus, lembut dan luar biasa?"

Pasal 18 Cermah Rumi dalam Fihi M Fihi Bagian 2 ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya yakni Banyak Pembaca Al-Quran yang dikutuk Al-Quran. Silahkan dibaca terlebih dahulu bagi yang belum. Berikut adalah lanjutan ceramah Jalaludin Rumi pasal ke 18, semoga bermanfaat.

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki menempuh perjalanan panjang untuk menunaikan ibadah haji. Ketika mencapai padang sahara dan merasa sangat kehausan, Ia melihat di kejauhahn sebuah kemah kecil yang beberapa bagiannya tampak koyak.





Ia pun mendekatinya. Ia melihat seorang perempuan dekat kemah itu dan bergegas mendekatinya, lalu berkata setengah menjerit, "Berilah aku kebaikan. Aku Sungguh membutuhkannya!"

Ia kemudian masuk, duduk dan meminta air. Ia disuguhi air yang terasa lebih panas dari api yang dan lebih asin daripada garam. Air itu terasa membakar semua yang dilintasinya, dari bibir hingga kerongkongannya.

Didorong rasa kasihan, Ia nasihati wanita itu, "Aku berhutang budi atas kebaikan yang engkau berikan kepadaku. Karena itu, didorong rasa kasihanku kepadamu, dengarkan dan perhatikan apa yang akan kuceritakan. Tidak jauh dari gurun ini ada kota Bagdad, Kufah, Wasith dan kota-kota lainnya. Pergilah kesana! Jika merasa lelah dalam perjalanan, kau bisa beristirahat sejenak di beberapa tempat sampai akhirnya kau tiba di kota-kota itu. Di sana kau akan menemukan banyak air manis dan segar yang berlimpah, juga makanan-makanan yang lezat, tempat mandi, berbagai kenyamanan, kesenangan dan kenikmatan lainnya"

Tidak lama berselang, datang seorang baduai, suami perempuan itu. Ia datang membawa hasil buruan berupa beberapa ekor tukus gurun.

Kemudian ia meminta istrinya memasakkan tikus-tikus gurun itu, lalu menyuguhkannya sebagian kepada sang tamu, yang tidak bisa menolaknya. Tamu itu mencicipinya dengan jijik.

Ketika malam tiba, sang tamu tidur diluar kemah. Perempuan menceritakan apa yang didengarnya dari sang tamu kepada suaminya, lalu bertanya, "Apakah engkau tidak pernah mendengar cerita seperti yang dikisahkan tamu kita itu?"

Suaminya menjawab, "Istriku, kau tidak perlu mendengarkan celoteh tamu kita ini. Ada banyak sekali orang di dunia ini yang iri dan dengki. Ketika melihat orang lain hidup damai dan bahagia, mereka iri dan ingin mengusirnya dari tempat tinggalnya, ingin menjerumuskannya ke lembah kehidupan menyedihkan."

Sebagian manusia mirip dengan orang badui ini. Ketika seseorang menasihatinya didorong rasa kasihan, ia justru menyebutnya orang yang dengki. Namu jika seseorang memiliki dasar yang kuat dalam hatinya, pada akhirnya ia akan mengalihkan wajahnya kepada makna sejati.

Bila percikan air dari Hari Alastu telah menetes dalam dirinya, tetes air itu akan membebaskannya dari kebingunan dan penderitaan, Maka kemarilah! mau sampai kapan kau menjauh dan terasing dari kami? Sampai kapan kau akan didera bimbang dan sedih? Apa yang bisa dikatakan kepada orang yang tidak mau mendengar nasihat dari siapapun, bahkan dari gurunya?

Seorang penyair bertutur :
Karena pada nenek moyangnya tidak pernah ada keagungan tentu ia tak senang mendengar nama-nama para pembesar.






Memang perjalanan menuju hakikat sejatinya tidaklah menyenangkan dan tidak cukup menarik. namun jika kau terus menerus menelusurinyam kau akan merasakan masinya.

Berbeda jika kau melihat bentuk (Zahir). Pada awalnya sangat menarik, tapi semakin lama duduk bersama, kau akan merasa semakin dingin dan bosan.

Apalah nilai bentuk Al-Quran bila disandingkan dengan makna sejatinnya.

Kalaulah makna (hakikat) manusia lenyap dan yang tersisa hanya bentuknya, tentu ia tidak akan dibiarkan tinggal ditempatnya walaupun sesaat.