Saturday, April 7, 2018

SEBELUM ASY'ARI LAHIR, APA AKIDAH UMAT? APAKAH NABI DAN PARA SAHABAT JUGA ASY'ARIYAH?


SEBELUM ASY'ARI LAHIR, APA AKIDAH UMAT? APAKAH NABI DAN PARA SAHABAT JUGA ASY'ARIYAH? KENAPA BUKAN SALAFI SAJA?
Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Sering sekali pertanyaan di atas ditanyakan oleh mereka yang tak paham apa itu akidah Asy'ariyah. Pertanyaan itu sejatinya seperti pertanyaan: sebelum ada Aqua, manusia minum apa? Apakah manusia pra sejarah juga minum Aqua? Anda tentu tersenyum bila mendengar pertanyaan "polos" seperti itu. Antara kasian, iba dan gemes campur aduk kalau ketemu orang yang menggugat dengan pertanyaan sedemikian.



Kita bahas Aqua dulu. Saya sengaja sebut merek tapi bukan untuk promosi, hanya karena merek ini populer di sekitar kita sama seperti merek Akidah Asy'ariyah populer di seluruh dunia. Dulu orang jaman old minum air murni dari sumber yang jernih tak terkotori berbagai polusi. Sumber airnya mengandung berbagai mineral alami.

Di jaman belakangan, sudah banyak polusi di berbagai sumber mata air alami. Akhirnya sebagian orang minum Aqua yang sejatinya hanya air biasa tetapi yang kadar kemurniannya sama dengan air di jaman old. Tapi ada bedanya antara air jaman old dan Aqua; Kalau jaman old airnya tak dibungkus melainkan langsung dari sumber mata air, kalau Aqua dibungkus plastik. Kalau air jaman old tak usah diolah tapi langsung diminum, kalau Aqua diolah dulu dengan proses pemurnian sebelum bisa diminum oleh konsumen.

FAQ:


  1. Apakah orang prasejarah juga mimun Aqua? Kalau mereknya sih nggak, tapi kalau hakikatnya yang sama saja. Kalau Aqua diartikan sebagai merek dagang, ya gak ada aqua di masa itu. Tapi kalau Aqua diartikan sebuah representasi dari air mineral, ya bisa dibilang kalau orang parasejarah juga minum "aqua".
  2. Apakah bungkus plastik Aqua bid'ah? Jelas bid'ah. Lah wong orang prasejarah gak pernah pakai plastik. Cuma ini mau bahas airnya apa bungkusnya? Bungkusnya gak ikut diminum kok jadi aman bagi kesehatan. Kurang kerjaan kalau mempermasalahkan bungkus.
  3. Apakah harus Aqua? Ya nggak lah, boleh minum air kemasan merek apapun. Merek "Santri" punya pesantren Sidogiri juga bagus banget. Merek lainnya yang memakai standar tinggi juga banyak. Asalkan semuanya merujuk pada standar yang sama, merek apapun tak masalah.
  4. Apabila ada yang tak mau minum air mineral tetapi maunya langsung minum air dari sungai dengan niatan ikut orang jaman old lantas berbahaya? Ya nggak juga. Tergantung kehebatan orangnya mengolah air sungai itu menjadi air layak minum. Tapi kalau langsung ditelan apa adanya tentu harus disadari bahwa kebanyakan air sungai di jaman old dan jaman now itu beda jauh. Sungainya sih tetap muncul dari tanah yang sama dan dari planet yang sama pula, tetapi sesudah sungai itu mengalir jauh ia terkena banyak polusi. Jadi yang mau langsung nelan mentah-mentah jangan blagu ngaku ikut-ikut tradisi orang jaman old.
  5. Saya tak suka air mineral olahan dan saya merasa wajib menyadarkan orang-orang dari terpengaruh iklan air mineral. Salahkah saya? Kalau hanya tak mau olahannya tak masalah asalkan bisa mengolah sendiri dengan standar yang baik juga. Tapi kalau Anda menolak airnya atau kandungan mineralnya, maka Anda melakukan kesalahan besar.
  6. Saya tak suka Aqua yang iklannya pakai nanya: "Ada Aqua?" kayak-kayak kalau gak minum Aqua orang jadi tulalit semua. Saya sukanya Le Minerale sebab "Kayak ada manis-manisnya". Apakah saya salah? Yealah.... Korban jargon iklan nih orang. Jargon kok dijadikan pedoman kualitas produk. Kekurangan piknik kayaknya.

Nah pasti sekarang sudah dapat gambaran tentang apa itu Akidah Asy'ariyah? Akidah Asy'ariyah sejatinya bukan hal baru, sebab ini adalah manhaj berpikir yang sesuai dengan kondisi di masa salaf.

Hanya saja penyajiannya dibungkus dengan argumen baru yang sesuai tuntutan zaman now. Apa yang ditetapkan dengan tegas oleh al-Qur'an dan Hadis juga ditetapkan keberadaannya oleh Asy'ariyah dan apa yang dinafikan oleh al-Quran-Hadis dengan tegas maka juga dinafikan. Sedangkan apa yang tak tegas ditetapkan dan tak tegas dinafikan, maka dikembalikan pada kaidah yang muhkam yang berdasar al-Quran-Hadis.

Yang melakukan prinsip ini bukan hanya mereka yang mengaku Asy'ariyah, tapi ada juga di luar mereka. Maturidiyah misalnya juga melakukan hal yang sama. Sebagian orang yang menyebut dirinya sebagai Atsariyah, sebagai pengikut ahlul hadis, sebagai pengikut salaf juga ada yang melakukan hal serupa sehingga juga sampai pada kesimpulan yang sama meskipun tak "bermerek" Asy'ariyah.

Ini semua tak lain hanyalah "merek" saja yang intinya sama. Selama standar utamanya tetap al-Quran dan hadis dengan kajian yang objektif, maka tetap saja semua merek itu bisa ketemu di ujung yang sama. Tapi ketika membahasnya tidak objektif, plin-plan dan suka menambah-nambahi, maka di situlah timbul perselisihan.

Orang yang memilih satu merek dengan jargon tertentu, misalnya jargon "salaf" lalu membuat kaidah bahwa indikator yang benar adalah yang memakai jargon "salaf" sedangkan yang ahli bid'ah adalah yang tak memakai jargon ini adalah tipe orang yang terbuai dengan jargon dan menjadikan jargon kelompok sebagai patokan kebenaran selain al-Qur'an dan hadis.

Sampai kapan pun, jargon tetaplah jargon tak bisa menjadi kaidah. Dulu Muktazilah menyebut diri mereka sebagai Ahlul Adli wat Tauhid, seolah orang di luar mereka tak meyakini keadilan dan keesaan Allah.

Demikian juga Khawarij dengan jargon hanya berhukum dengan hukum Allah. Demikian juga dengan Syi'ah dengan jargon mengikuti Nabi dan Keluarganya. Tapi itu hanya jargon mereka saja tak berarti apa-apa. Demikian pula seluruh kelompok lain punya jargon-jargon indah bagaikan iklan-iklan yang berseliweran di TV. Semua mengklaim kecap nomer satu.

Tapi sekali lagi, kualitas produk tak ditentukan oleh jargonnya tapi oleh kekuatan produk itu ketika dipakai. Dalam hal akidah/fikih, faktor penentunya adalah kekuatan argumen.

Kenapa menisbatkan diri pada manusia yang tidak ma'shum (tidak terjaga dari salah)? Bukankah lebih baik ke salaf saja? Jawabannya:

Pertama, Nabi tak pernah mengatakan bahwa kelompok yang jargonnya adalah menisbatkan diri pada salaf selalu lebih baik. Sebab itu, klaim lebih baik yang menisbatkan diri pada"salaf' ini tak berdasar. Kalau mau mengklaim bahwa generasi salaf itu terbaik menurut nash Nabi, maka hampir semua mengaku sebagai pengikut mereka (kecuali kelompok liberal yang hidup di jaman now yang alergi pada semua yang kuno).

Kedua, menisbatkan diri pada satu masa seperti "salaf" ujung-ujungnya tetap menisbatkan diri pada orang-orang tertentu saja sebab di masa salaf sendiri banyak tokoh ahli bid'ah yang tak dirujuk. Syi'ah, Jabariyah, Qadariyah, Muktazilah, Jahmiyah, Musyabbihah, Mujasssimah dan lain-lain juga punya tokoh yang hidup di era salaf yang menurut mereka masing-masing semuanya nomer satu sebagai pengikut Nabi.

Faktanya, di antara mereka semua ada yang menjadi periwayat hadis yang dirujuk hingga sekarang, tak terkecuali para periwayat yang menjadi guru riwayat dari Imam Bukhari dan Muslim. Kalau bicara soal ma'shum, memangnya siapa yang menjamin kalau salaf pasti ma'shum?

Ketiga, istilah salaf itu bisa dibilang bid'ah karena tak dikenal di masa Rasul dan sahabat. Tapi juga bukan bid'ah yang terlarang, bahkan di kalangan yang mengaku tak membagi bid'ah sekalipun. Sebagai istilah baru, semua istilah teknis dan standar di dalamnya juga baru ada belakangan dan dikonsep belakangan oleh gerasi yang khalaf.

Orang belakangan (khalaf) inilah yang kemudian menentukan siapa yang mau disebut salaf dan siapa yang tidak sesuai kriteria yang dibuatnya sendiri, BUKAN sesuai petunjuk Rasulullah sebab memang tak ada petunjuk teknis Rasulullah soal ini. Rasulullah dalam beragam hadisnya hanya berwasiat agar sepeninggal beliau umat ini mengikuti al-Qur'an, as-Sunnah, khulafa' ar-Rasyidin, itrah (keturunan) Rasul, para sahabat.

Beliau juga mengatakan bahwa tiga kurun pertama adalah generasi terbaik. Namun siapa orang-orangnya yang masuk dalam kategori terbaik itu ya tetap ditentukan oleh kalangan khalaf sendiri sehingga ini masuk dalam ranah ijtihadiyah yang bisa benar dan bisa juga salah.

Mayoritas umat islam mengaku mengikuti yang terbaik itu, baik yang mereknya Ahlusunnah maupun Syi'ah sama saja, demikian juga merek-merek kecil di bawah kedua merek besar itu juga sama mengklaim demikian (kecuali sebagian kecil saja yang memang alergi dengan salaf).

Akhirnya, semuanya tetap berujung pada nama-nama tokoh yang dianggap rujukan dan klaim "salaf" hanya menjadi klaim sepihak saja. Lihat saja para Imam Mazhab yang empat masing-masing mengklaim dirinya mengikuti salaf tetapi punya ribuan perbedaan pendapat. Lihat juga pendaku salafi modern yang juga muncul mengklaim dirinya lebih salaf dari semua mazhab yang empat itu sehingga tak mau berintisab pada satu pun dari keempat mazhab itu.

Jangan dikira perbedaan runcing hanya soal fikih saja, masalah detail akidah juga sama berbeda. Lihat misalnya perbedaan Bin Baz dan Utsaimin, yang sama-sama mengklain dirinya salafi 24 karat, soal apakah Allah punya bayangan atau tidak? Bin Baz mengiyakannya sedangkan Utsaimin mengatakan bahwa yang menetapkan bayangan bagi Allah adalah lebih bodoh dari keledai. (selengkapnya bisa lihat status saya yang berujudul "LAYAK ATAU TIDAKNYA SEBUAH SIFAT DISANDARKAN PADA ALLAH").

Para ulama kibar banyak yang menyebut dirinya Asy'ari bukan berarti mendeklarasikan diri meninggalkan salaf. Maksudnya adalah mengikuti salaf dalam konsep yang ditulis Imam Abu Hasan al-Asy'ari. Konsep ini umum sekali sehingga dalam prakteknya ulama yang lahir sebelum Imam Asy'ari sendiri juga dirujuk bila pemikirannya sama, sebut saja Imam Thahawi misalnya dalam risalah akidahnya.

Demikian juga Imam Abu Hanifah dalam Fiqhul Akbar-nya. Menyebut identitas sebagai Asy'ariyah juga berfungsi sebagai penegasan identitas sehingga tak abu-abu lagi. Kalau misalkan saya menyebut diri saya Salafi (meskipun sebenarnya demikian), maka orang yang juga menyebut dirinya Salafi akan ribut mempersoalkan keaslian klaim saya bahkan bisa jadi menyebut saya munafik, dan saya pun harus sibuk menanggapi soal merek salafi ini.

Kalau kebenaran suatu kelompok dinilai dari jargon penisbatan dirinya, maka tentu kelompok paling benar di dunia ini adalah Ormas Muhammadiyah di Indonesia sebab mereka menisbatkan diri pada Nabi Muhammad, bukan lagi ke masa salaf yang tak jelas orangnya.

Masak kita mau menentang Nabi Muhammad? Selain itu kita juga harus membenarkan komunitasnya Lia Eden yang menisbatkan ajarannya pada Malaikat Jibril. Masak kita mau melawan Jibril? Kita juga harus mengakui superioritas sebagian kelompok yang mengaku sudah menyatu dengan Allah. Masak Allah mau kita lawan? Kesimpulan lucu inilah yang terjadi kalau jargon dijadikan kaidah kebenaran.

Kembali ke pertanyaan awal tadi, kalau ada yang bertanya apakah Nabi dan para sahabat seorang Asy'ari?, kita juga bisa bertanya balik apakah Nabi dan para sahabat seorang Salafi? Pertanyaan konyol cukup dijawab dengan pertanyaan konyol serupa. Sepertinya saya sudah terlalu baik menjelaskannya panjang lebar. Hahaha…
Semoga bermanfaat.


EmoticonEmoticon