Friday, March 9, 2018

MAZHABNYA SYAFI'I TAPI KOK AKIDAHNYA ASY'ARI?

 

MAZHABNYA SYAFI'I TAPI KOK AKIDAHNYA ASY'ARI?
Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Banyak orang iseng bertanya kenapa mayoritas yang mengaku bermazhab Syafi'iyah kok akidahnya malah Asy'ariyah? Kenapa tak ikut akidahnya Imam Syafi'i? Pertanyaan seperti ini bahkan sering dijadikan meme dan sangat dipuji oleh banyak mereka yang menjadikan meme seolah ayat al-Qur'an yang kebenarannya sudah dijamin.

Sebenarnya saya malas mengomentari pertanyaan seperti itu sebab untuk apa pertanyaan salah dikomentari? Pertanyaan itu dibangun dari asumsi bahwa Akidah Asy'ariyah berbeda dengan ajaran Imam Syafi'i sehingga pertanyaan itu sendiri yang seharusnya dipertanyakan. Tapi berhubung sepertinya banyak yang terpengaruh juga, berikut ini jawabannya:

Pertama


Tak ada perbedaan prinsip antara akidah Imam Syafi'i dan Imam Asy'ari. Yang mau mengatakan sebaliknya silakan buktikan dengan nukilan yang ilmiah dari kitab-kitab Asy'ariyah sendiri dan kitab Imam Syafi'i! Justru para ulama Syafi'iyah menukil dari Imam Syafi'i bahwa Allah bukanlah jisim, Allah tak boleh disifati duduk, sifat Allah harus diarahkan ke makna yang layak baginya.

Ini adalah akidah yang sama persis dengan ajaran Imam Asy'ari. Perbedaannya hanya terletak pada bab takwil di mana Imam Syafi'i dan kebanyakan ulama di masanya tergolong ahli tafwidh sehingga biasanya tak mau melakukan takwil tertentu. Soal tema tafwidh dan takwil ini, saya sudah sudah tulis di beranda saya dengan judul "DUA PENDAPAT ASY'ARIYAH TENTANG SIFAT".

Keduanya adalah dua sikap yang valid dan punya dasar dari pernyataan para sahabat Nabi dan orang-orang setelahnya.

Kedua


Imam Syafi'i fokus karangannya ke bidang fikih dan tak punya kitab khusus akidah secara komprehensif. Ini menyebabkan tak ada mazhab Akidah Imam Syafi'i. Kalau ada yang menggugat kenapa tak ikut akidah Imam Syafi'i, maka kitab beliau yang mana yang harus dijadikan pedoman?

Ada kitab akidah berjudul "al-Fiqhul Akbar" yang dinisbatkan pada Imam Syafi'i, isinya malah 100% Asy'ariyah. Tetapi sebab penganut Asy'ariyah dan Syafi'iyah cermat dan jujur secara ilmiah, maka kitab ini dinyatakan bukan karangan imam Syafi'i dan tak dipakai sebagai rujukan.

Bandingkan dengan kitab "Risalah Ila Ahli Tsaghr" yang dicetak berulang oleh para pendaku Salafi atas nama Imam Asy'ari sebab isinya mereka anggap cocok dengan akidahnya. Padahal kitab Risalah itu tak valid penisbatannya pada Imam Asy'ari dan banyak dari ulama mereka yang tahu itu.

Ketiga


Imam Asy'ari fokus karangannya ke bidang akidah dan tak punya kitab fikih yang komprehensif yang sampai pada kita. Ini menyebabkan tak ada mazhab fikih Asy'ariyah. Berbeda kasusnya tentang teman akidah; Imam Asy'ari menulis dan mengomentari semua sekte akidah kaum muslimin saat itu, mulai dari mujassimah yang menetapkan sifat fisik hingga jahmiyah yang meniadakan seluruh sifat agar tak bernuansa fisik, mulai qadariyah yang mengatakan manusia bebas secara mutlak dalam bertindak hingga jabariyah yang mengatakan bahwa seluruh tindakan manusia itu atas paksaan kehendak Tuhan, semuanya tak luput dari koreksi Imam besar ini.

Dari sinilah kemudian para muridnya memunculkan istilah mazhab akidah Asy'ariyah. Pada hakikatnya, ini bukanlah mazhab baru sebab kenyataannya justru mazhab ini muncul sebagai pembelaan terhadap akidah para ulama salaf yang dikritik oleh sekte-sekte belakangan di atas.

Keempat


Pertanyaan ini sama kasusnya dengan kita merujuk Imam Bukhari dan lainnya dalam bab hadis, bukan ke musnad as-Syafi'i sebab musnad beliau terbatas sekali. Dalam bab Rijalul Hadis kita merujuk pada penilaian Yahya bin Ma'in dan lain-lain, bukan ke Imam Syafi'i sebab sedikit sekali penilaian beliau atas rijalul hadis yang sampai pada kita.

Dalam bab Tafsir kita merujuk pada Al-Qurthuby dan lain-lain sebab tak satu pun kita dapati Imam Syafi'i menulis tafsir.

Jadi, dengan memilih ulama rujukan yang berbeda dalam tiap bab yang berbeda pula bukan berarti kita plin-plan tetapi justru menunjukkan adanya keahlian memilih para ahli di bidangnya masing-masing.

Ini juga menjadi bukti bahwa bermazhab itu tidak kaku dan sama sekali tidak berarti membatasi diri dengan satu tokoh saja dalam segala hal. Tak ada satu pun ulama mazhab yang mengajarkan sikap kaku dan membatasi diri seperti ini sehingga para pengikut mazhab fikih tetap leluasa merujuk tokoh manapun yang ia anggap argumennya paling pas.

Sebab itulah, biasanya pertanyaan seperti di judul tulisan ini hanya muncul dari orang-orang yang tak bermazhab dan tak mau tau tentang mazhab tetapi bersemangat komentar tentang mazhab.


EmoticonEmoticon